
_SMA Negeri Kapan, pada Sabtu, 28 November 2025, menyelenggarakan kegiatan renungan akhir semester yang dipimpin oleh Diakon Alfonsus Ligori Tafuli. Renungan ini bertujuan memberikan ketenangan batin serta penguatan rohani bagi seluruh warga sekolah di tengah meningkatnya tekanan akademik menjelang penutupan semester.
Dalam ibadah yang berlangsung khidmat tersebut, Diakon Alfonsus mengangkat refleksi dari Kitab Daniel mengenai pengalaman sang nabi yang hidup dalam pembuangan di Babilonia. Daniel digambarkan mengalami pergumulan berat akibat penindasan bangsa asing, kehancuran kota suci Yerusalem, serta ketidakpastian masa depan. Melalui penglihatan tentang empat binatang buas yang keluar dari laut—simbol kekuatan dunia yang ganas dan tidak stabil—seluruh peserta diajak menyadari bahwa kehidupan masa kini pun tidak lepas dari dinamika serupa: kegaduhan, ambisi, dan tekanan yang terus berubah.

Diakon Alfonsus menekankan bahwa tantangan tersebut nyata dirasakan oleh warga SMA Negeri Kapan. Guru dan pegawai dihadapkan pada tuntutan administrasi, perubahan kurikulum, serta beban kerja yang tinggi, sementara para siswa menghadapi tekanan nilai, ekspektasi keluarga, serta pengaruh media sosial yang sering menciptakan kecemasan.
Meskipun demikian, renungan ini menegaskan bahwa penglihatan Daniel juga menghadirkan harapan. Munculnya sosok “Anak Manusia” yang menerima kuasa kekal menjadi simbol bahwa di balik segala ketidakpastian, terdapat kebenaran ilahi yang tidak berubah. Harapan tersebut dipertegas dengan bacaan Injil tentang perumpamaan pohon ara, di mana tunas-tunas baru melambangkan bahwa kehidupan terus bergulir dan bahwa perubahan merupakan bagian dari proses kedewasaan.
Diakon Alfonsus juga menggarisbawahi sabda Yesus, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu,” sebagai fondasi rohani yang kokoh. Sabda ini mengingatkan bahwa nilai-nilai Kristiani tetap menjadi pegangan utama dalam menghadapi setiap tekanan dan perubahan zaman.
Dalam pesannya kepada para guru dan pegawai, ia menegaskan bahwa tugas utama seorang pendidik adalah menanamkan nilai-nilai abadi seperti kasih, kejujuran, dan integritas. Sementara segala tuntutan administratif bersifat sementara, sentuhan moral dan spiritual yang diberikan kepada peserta didik akan berdampak jangka panjang.
Kepada siswa-siswi SMA Negeri Kapan, ia berpesan agar tidak menggantungkan harga diri pada nilai akademik atau tren media sosial. Iman, kerja keras, dan karakter yang kuat merupakan fondasi yang akan menolong mereka menghadapi perubahan besar di masa depan.
Kegiatan renungan ditutup dengan doa bersama serta ajakan untuk menjadikan akhir semester sebagai kesempatan memperdalam nilai rohani, memperhatikan tanda-tanda pertumbuhan pribadi, dan membangun kebersamaan dalam komunitas sekolah. Melalui kegiatan ini, SMA Negeri Kapan menegaskan komitmennya untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kokoh secara iman dan karakter.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini